Kampanye Hak Difabel, Sri Tempuh Perjalanan 2.500 Kilometer
BANDA ACEH | ACEHKITA.CO -- Perempuan asal Wonosobo, Jawa Tengah, ini tak berpangku tangan. Meski seorang penyandang paraplegi (kecacatan), Sri Lestari terus berkreasi dan berkampanye untuk pemenuhan hak-hak para penyandang cacat di Indonesia.
Salah satu cara yang dilakukan perempuan berusia 40 tahun itu adalah dengan menempuh perjalanan dari Banda Aceh menuju Jakarta. Bukan dengan mobil, tapi dengan sebuah sepeda motor yang telah dimodifikasi untuk Sri yang difabel.
Perjalanan ini dilakukan Sri untuk memberikan semangat bagi teman-temannya yang mengalami cacat fisik, "karena masih banyak penyandang cacat yang belum berani keluar rumah," kata Sri.
Ia berangkat menuju Jakarta dari Sabang. Namun, penglepasan keberangkatan Sri dari Aceh ke Jakarta dilakukan di depan kantor Dinas Sosial Aceh di kawasan Blang Padang Banda Aceh, Ahad (7/9/2014). Sri akan menempuh perjalanan sekitar 2.500 kilometer, dengan beberapa kali berhenti di sejumlah daerah di provinsi yang dilintasinya.
Aceh punya alasan tersendiri bagi Sri untuk memulai pertualangannya. Pasalnya, Sabang merupakan titik nol Indonesia di bagian barat.
Selama dalam perjalanan 40 hari ini, Sri akan menjumpai kaum penyandang disabilitas di sejumlah daerah yang menjadi tempat pemberhentian sementara. "Saya ingin memberikan mereka semangat," ujar Sri. "Dari sekitar 24 juta penyandang difabel, hanya 10 persen saja yang berani beraktivitas di luar rumah."
Hak-hak penyandang difabel yang dikampanyekan selama perjalanan berupa adanya jalur yang mudah bagi mereka mengakses tempat pelayanan publik, seperti gedung perkantoran pemerintah, puskesmas, sekolah, terminal, dan kendaraan umum. Menurut Sri, banyak fasilitas publik yang masih sulit diakses penyandang cacat.
Sri Lestari mengalami cacat sejak usia 23 tahun, setelah mengalami kecelakaan sepeda motor, yang membuat ia terpaksa terbaring selama 10 tahun lamanya.
Sempat terpuruk. Namun ia bangkit setelah memperoleh kursi roda dan sepeda motor modifikasi. Ia kembali beraktivitas. Sejak itu, Sri bertekad untuk hidup mandiri, hingga mengabadikan hidupnya sebagai relawan di United Cerebral Palsy, Roda untuk Kemanusiaan.
Sri berharap, lawatannya dari Aceh menuju Jakarta mengetuk hati para pengambil kebijakan di Indonesia untuk memberikan akses bagi para penyandang disabilitas. | SABARUN
Salah satu cara yang dilakukan perempuan berusia 40 tahun itu adalah dengan menempuh perjalanan dari Banda Aceh menuju Jakarta. Bukan dengan mobil, tapi dengan sebuah sepeda motor yang telah dimodifikasi untuk Sri yang difabel.
Perjalanan ini dilakukan Sri untuk memberikan semangat bagi teman-temannya yang mengalami cacat fisik, "karena masih banyak penyandang cacat yang belum berani keluar rumah," kata Sri.
Ia berangkat menuju Jakarta dari Sabang. Namun, penglepasan keberangkatan Sri dari Aceh ke Jakarta dilakukan di depan kantor Dinas Sosial Aceh di kawasan Blang Padang Banda Aceh, Ahad (7/9/2014). Sri akan menempuh perjalanan sekitar 2.500 kilometer, dengan beberapa kali berhenti di sejumlah daerah di provinsi yang dilintasinya.
Aceh punya alasan tersendiri bagi Sri untuk memulai pertualangannya. Pasalnya, Sabang merupakan titik nol Indonesia di bagian barat.
Selama dalam perjalanan 40 hari ini, Sri akan menjumpai kaum penyandang disabilitas di sejumlah daerah yang menjadi tempat pemberhentian sementara. "Saya ingin memberikan mereka semangat," ujar Sri. "Dari sekitar 24 juta penyandang difabel, hanya 10 persen saja yang berani beraktivitas di luar rumah."
Hak-hak penyandang difabel yang dikampanyekan selama perjalanan berupa adanya jalur yang mudah bagi mereka mengakses tempat pelayanan publik, seperti gedung perkantoran pemerintah, puskesmas, sekolah, terminal, dan kendaraan umum. Menurut Sri, banyak fasilitas publik yang masih sulit diakses penyandang cacat.
Sri Lestari mengalami cacat sejak usia 23 tahun, setelah mengalami kecelakaan sepeda motor, yang membuat ia terpaksa terbaring selama 10 tahun lamanya.
Sempat terpuruk. Namun ia bangkit setelah memperoleh kursi roda dan sepeda motor modifikasi. Ia kembali beraktivitas. Sejak itu, Sri bertekad untuk hidup mandiri, hingga mengabadikan hidupnya sebagai relawan di United Cerebral Palsy, Roda untuk Kemanusiaan.
Sri berharap, lawatannya dari Aceh menuju Jakarta mengetuk hati para pengambil kebijakan di Indonesia untuk memberikan akses bagi para penyandang disabilitas. | SABARUN

Post a Comment