Kesaksian Dokter dari Gaza
![]() |
| Reuters |
Dari seluruh pasien di Al Shifa, saya pikir, 30 persen di antaranya perempuan dan 30 persen lainnya anak-anak. Namun sulit untuk menentukan pasti angkanya maupun melakukan pencatatan secara regular di tengah chaos yang terjadi. Bagi kami, perawatan medis adalah prioritas utama.
Semalam di Ruang Gawat Darurat, kami menerima dua anak perempuan berusia empat dan enam tahun, keduanya dalam kondisi serius. Kakak beradik ini tengah berada tidak jauh dari daerah yang dibom di pengungsian Jabaliya.
Mereka datang dengan luka-luka di kaki, wajah, mereka mengalami patah tulang serta cedera di bagian kaki dan dada. Pada usia mereka, dada belum terbentuk benar, dan ledakan tersebut sedemikan kencang sehingga merusak paru-paru. Keduanya berada di meja operasi sepanjang malam, dan hari ini kami memberikan perawatan pasca operasi. Luka-luka mereka cukup serius, saya tidak tahu apakah mereka akan bertahan.
Satu hal yang pasti: terdapat terlalu banyak pasien. Kami mencoba merawat kasus-kasus paling darurat, dengan tujuan untuk menyelamatkan hidup mereka yang terluka paling serius. Tim kami bekerja non-stop.
Di Rumah Sakit Al-Shifa terdapat tujuh staf international dari MSF—terdiri dari sejumlah dokter bedah, ahli anestesi dan para perawat—yang bekerja di bagian tanggap darurat, ruang operasi, dan unit luka bakar, bersama dengan para staf Palestina.
Para staf Palestina melakukan pekerjaan yang sangat baik: mereka berpengalaman melakukan operasi dalam kondisi perang maupun dalam menghadapi besarnya arus orang yang terluka.
Tim kesehatan MSF misalkan, akan berupaya menstabilkan pasien gawat darurat sebelum dioperasi ahli bedah dari kementerian kesehatan; sebaliknya, korban luka distabilkan oleh rekan dari Palestina, sebelum dioperasi oleh salah satu ahli bedah kami.
Pembagian tugas dilakukan berdasarkan kebutuhan, dengan cara apapun yang bekerja paling tepat. | MICHELE BECK
*) Michele Beck, kepala tim medis Médecins Sans Frontières/Dokter Lintas Batas (MSF)

Post a Comment