Cerita dari Ajang Pertukaran Pemuda Indonesia-Malaysia
![]() |
| Dok. Trisna Mulyanti |
SELAMA sekitar satu bulan saya mengikuti rangkaian kegiatan Indonesia-Malaysia
Youth Exchange Program (IMYEP) tahun 2014 di Jakarta, Bali, dan Malaysia.
Kegiatan ini merupakan program tahunan Kemenpora RI bekerja sama dengan
Kerajaan Malaysia, dan sudah berjalan yang ke-34 kalinya.
Setelah melalui seleksi ketat oleh Dispora Aceh dan PCMI Aceh bulan April
lalu, akhirnya pada tanggal 13 Agustus, saya berangkat dan bertemu dengan 33 delegasi Indonesia
lain serta 32 delegasi Malaysia. Selama di Jakarta, kami berkesempatan mengikuti upacara kemerdekaan RI, courtesy call di Kemenpora RI, dan media visit di Kompas Group. Kemudian
bertolak menuju Bali untuk mengikuti program yang antara lain berisi kegiatan homestay di Desa Mas Ubud, courtesy call di Istana Kepresidenan
Tampaksiring, workshop pembuatan
topeng & latihan tarian Bali, cultural
performance, dll.
Selanjutnya di fase Malaysia, para delegasi melakukan courtesy call di ASEAN Secretariat
di Kementrian Luar Negeri Malaysia, yang saya diakui sebagai
sesi favorit selama berdiskusi panjang lebar mengenai ASEAN Economic Community (AEC) 2015. Kegiatan
program lainnya di Malaysia antara lain adalah homestay, kunjungan ke Muzium Negara, Istana Kesultanan Malaka,
Kedubes RI di KL, media visit ke RTM
(Radio dan TV Malaysia), perayaan upacara kemerdekaan Malaysia, juga cultural performance berupa parade baju
adat daerah, penampilan tari, medley lagu daerah, pameran budaya dan produk
negeri. Saya mempersiapkan
diri dengan baik dan membawa bahan-bahan promosi daerah yang diperolehnya dari
Disbudpar dan Bainprom Provinsi Aceh.
Ini merupakan kesempatan sangat berharga,
karena saya dapat menjadi salah satu
wakil dalam usaha menjaga hubungan bilateral dua negara tetangga yang sering
tidak stabil ini. Misalnya untuk isu klaim budaya, setelah ditelusuri melalui
diskusi di berbagai kesempatan, semua delegasi dapat mencapai mutual understanding yang tidak
merugikan salah satu pihak, dan sepakat bahwa blow-up media dapat berperan besar menghasut perpecahan. Karena faktanya,
Malaysia tidak pernah melakukan bentuk “klaim budaya” apapun ke UNESCO terhadap
produk seni-budaya Indonesia. Yang selama ini paling panas digembar-gemborkan
sebagai “klaim budaya” adalah video promosi pariwisata Malaysia berisi cuplikan
tarian/pakaian/dll yang mirip khas daerah Indonesia.
Hal ini tidak dapat dipungkiri sebagai kewajaran, karena memang sangat
banyak sekali keturunan asli Indonesia yang menetap di berbagai daerah di
Malaysia, kemudian melestarikan seni budayanya disana. Saya dan para delegasi pemuda sendiri telah
merasakan langsung hal ini selama melakukan homestay
di Negeri Sembilan, di salah satu kampung yang sangat kental dengan
kebudayaan Jawa-nya. Di sini banyak yang fasih berbahasa Jawa, bahkan delegasi
sempat disuguhi sebuah penampilan angklung oleh para remaja setempat.
Saya menilai, pergi ke Malaysia dianggap mudah di Aceh karena
begitu dekat. Tapi pengalaman yang diperoleh dalam paket lengkap berupa program
pertukaran seperti ini sungguh sangat berharga dan penting, justru karena
dilaksanakan bersama negara sahabat terdekat seperti Malaysia. Apalagi juga
dilakukan bersama-sama dengan pemuda hebat dari seluruh provinsi Indonesia yang
sangat beragam. Sehingga banyak inspirasi dan wawasan yang terasa sangat mengena
untuk diri saya pribadi, supaya dapat mengambil bagian dalam mengejar
ketertinggalan Aceh dan Indonesia. Saya bersyukur dan bangga dapat menambah
pengalaman lagi melalui rangkaian kegiatan ini, dan sangat mendorong
kawan-kawan pemuda Aceh lain untuk ikut mencoba. Karena selain untuk
pengembangan diri, kita juga menjadi duta muda penyampai nilai-nilai positif
Aceh dan Indonesia di hadapan rekan-rekan provinsi lain se-Indonesia dan juga
negara lain, sesuai dengan bidang masing-masing yang kita kuasai.
Setiap tahunnya seleksi program Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN) diselenggarakan
oleh Dispora Aceh bekerja sama dengan PCMI Aceh (organisasi alumni pertukaran
pemuda) sekitar bulan Maret-Mei. Tesnya seputar wawasan daerah, wawasan
kebangsaan, wawasan global terutama mengenai negara tujuan, kemampuan Bahasa
Inggris, seni dan budaya, group
discussion, serta public speaking. Semoga
semakin banyak pemuda/i yang mau dan mampu ikut serta menyukseskan kegiatan pertukaran
semacam ini dalam rangka menjaga nama baik Aceh dan Indonesia. | TRISNA MULYATI
TRISNA MULYATI, lulusan Teknik
Industri ITB Bandung. Saat ini magang di International Centre for Aceh and
Indian Ocean Studies (ICAIOS).

Post a Comment