Cerita Ramadan di Masjid Raya
![]() |
| Ahmad Ariska |
Ramadan pertama, masjid ini dipadati jemaah. Jelang sembahyang Isya, masjid telah penuh, hingga ke halaman depan menara utama. Antrean di tempat wudhu telah mengular. Sementara di luar, badan jalan telah tertutup. Ratusan mobil mengantre parkir. Riuh peluit tukang parkir dadakan terdengar nyaring. Silih berganti bersama suara lantunan Quran yang bergema dari corong masjid.
Malam itu, hari Minggu di pekan terakhir bulan Juni, cuaca amat cerah. Langit tak berbintang. Menjelang pukul 20.00 WIB, sirene berbunyi. Biasanya, suara itu akrab menjelang berbuka. Tak terlalu panjang. Hanya sekitar 30 detik. Di halaman mesjid, seorang ibu muda duduk bersila. Wajah mengangguk ke kiri-kanan, terlihat samar saat disinari lampu. Sementara seorang anak kecil terlelap di pangkuannya.
Lampu kamera beberapa kali menyala. Selain tempat ibadah, Masjid ini memang favorit potografer. Baik itu profesional, maupun mereka yang sekedar selfie di depan mesjid agung ini. Banyak pasangan juga yang melakukan ijab-qabul di masjid bersejarah itu.
Masjid itu dibangun masa kesultanan Aceh dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda, tahun 1612. Saat Belanda menyerang Kerajaan Aceh, masjid ini dibakar. Tahun 1877, kembali dibangun Belanda, untuk meredam kemarahan masyarakat Aceh. Masjid, saat itu, merupakan tempat mengatur siasat perang. Di masjid pula, menjadi tempat mengajarkan ajaran Islam.
Belanda yang masuk ke Aceh di tahun 1873, di bawah pimpinan Johan Harmen Rudolf Kohler, menguasai Masjid Baiturrahman. Dalam perang pertama yang pecah di masjid itu, Kohler tewas tertembak. Hingga kini, monumen tempat tewasnya Jenderal Belanda itu masih ada di Masjid Baiturrahman. Tepatnya di pintu utara masjid, di bawah pohon gelumpang.
Di masjid ini pula, masyarakat berkumpul untuk menyaksikan deklarasi damai antara pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka di Helsinki, Finlandia, 10 tahun lalu. Masjid ini menjadi saksi perang dan damai. Barangkali, masjid yang tetap kokoh saat dilanda gempa dan tsunami tahun 2004 ini adalah masjid yang arsitekturnya termegah di dunia.
Arsitektur masjid ini terlihat klasik. Beberapa kubah masih dari kayu yang usianya telah puluhan tahun. Di tiang-tiang utama, digantung beberapa rak yang berisi Quran. Beberapa dengan kulit yang mulai terkelupas. Barangkali terlalu banyak yang sudah membacanya. Kaligrafi juga memenuhi dinding dan kubah. Diukir dengan tinta emas, memberikan kesan kemawahan.
Beberapa lampu hias juga digantung di dalamnya. Lampu-lampu itu kini terlihat lebih besih. Dulu, di dalamnya bersarang sekawanan burung. Tak heran jika sedang sembahyang, cicit burung terdengar nyaring. Namun kini, saat masjid sepenuhnya ditutup kaca, burung tak lagi dapat masuk. Di masjid ini, juga hidup sekawanan burung walet, yang di malam hari tampak terlalu banyak. Memadati kubah masjid yang berwarna hitam.
Di beberapa sudut masjid, orang-orang terlihat kusyuk membaca Quran. Sebagian lagi mengangguk kepala ke kiri-kanan. Biasanya gerakan itu dilakukan orang berzikir; melafalkan La ilaha illa Allah –tiada Tuhan selain Allah. Azan Isya masih setengah jam lagi, namun di pintu masuk ratusan orang mengantri. Melihat sisi yang masih kosong. Beberapa tetap memaksakan duduk berimpitan. Sangat berimpit.
Salat Tarawih di Aceh punya dua model. Delapan dan 20 rakaat. Hal itu, kata Azman Ismail, Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman, telah disepakati oleh pemerintah dan tokoh agama. Kesepakatan itu diambil untuk menghindari saling tuding tentang kebenaran sembahyang sunat Tarawih.
“Kesimpulannya jemaah dibagi dua. Delapan dan 20. Keduanya adalah orang Aceh. Hadir dan sembahyang di masjid kebanggaan orang Aceh. Tidak ada yang salah,” kata Azman.
***
![]() |
| Ahmad Ariska |
Bulan Ramadan di Aceh membuat para dermawan mendermakan sedikit uangnya. Sementara para pengemis semakin banyak. Mereka memenuhi setiap sudut masjid. Di setiap pintu di Masjid Raya Baiturrahman, masjid yang diagungungkan itu, minimal empat hingga lima pengemis menghamba. Menanti belas kasih dari para jemaah.
Seorang anak berjongkok di pintu itu. Ia menghindari terpaan sinar matahari yang menyengat, di puasa hari pertama. Beberapa lainnya bergerilya mengelilingi halaman masjid. Berjalan ke arah berkumpulnya orang-orang. Di tangan mereka kantong kresek kecil yang lusuh. “Sedekah untuk anak yatim bang,” kata mereka menghamba. Begitu lembaran rupiah mereka dapat, mereka berlari gembira. Seperti anak kecil yang mendapat mainan baru.
Sementara seorang tua terus saja bersalawat. Di tangannya sebuah timba kecil. Saat ia bergerak, gemerincing terdengar. Dari kubah masjid, lantunan ayat terdengar. Sebentar lagi waktu berbuka. Di bulan puasa, orang cacat ada di mana-mana. Mereka semakin bertambah, bagai jamur di musim hujan.
Di Masjid Baiturrahman, disediakan takjil, menu berbuka yang dibagikan gratis kepada fakir miskin. Jumlahnya 110 bungkus. Menu yang diberikan berupa kanji rumbi, makanan khas sejenis kolak dari Aceh. Ada juga kopi dan teh. Jus timun dan kue. Semuanya disumbangkan para dermawan. “Kita berikan kepada orang-orang kurang mampu di sini,” kata Dul, petugas yang membagikan takjil.
![]() |
| Ahmad Ariska |
Takjil diberikan sekitar 20 menit sebelum waktu berbuka. Sebelum diberikan, seratusan lebih orang telah berkumpul. Sebagian besar adalah para pengemis. Tua muda, serta puluhan anak peminta-minta.
Pengurus tak bisa mengontrol. Mereka bergerak cepat. Tak sampai 3 menit, semuanya ludes. Setelah mengambilnya, para pengemis itu kembali ke tempat masing-masing. Mereka seperti telah mempunyai lapak mengemis masing-masing. Kembali duduk bersahaja, menundukkan muka sembari menaikkan tangan, meminta-minta.
Saat azan magrib bergema, sesaat setelah beduk tanda berbuka berbunyi, sebagian bergerak sembahyang, sebagian lagi seolah tak peduli. Mereka tetap mengangkat tangan. Terus melantunkan zikir, memohon sedekah, kemurahan hati para jemaah.
Di Masjid Baiturrahman, tempat berbagai saksi. Tempat perang dan damai. Tempat orang mendermakan harta. Tempat orang meminta-minta. | M. HAMZAH HASBALLAH



Post a Comment