Header Ads

Wawancara dengan Sutradara "Yang Ketu7uh"

JAKARTA | ACEHKITA.CO -- Sejak 25 September lalu, film dokumenter "Yang Ketu7uh" diputar di bioskop jaringan Blitz Megaplex dan 21 di enam kota di Indonesia. Ini merupakan film dokumenter ketujuh yang masuk bioskop komersil.

Dokumenter "Yang Ketu7uh" diproduksi WatchdoC. Sutradara Dandhy Dwi Laksono menyebutkan, film ini dibuat untuk mendokumentasikan proses pemilihan legislatif dan presiden. "Kita menggarap ini sejak Februari 2014," kata Dandhy saat ditemui di kantor WatchdoC di kawasan Pondok Gede, Jakarta Timur, 25 September lalu.

Masuk bioskop, "Yang Ketu7uh" harus berjuang keras. Dandhy sadar, filmnya akan berhadapan dengan film komersil lain, seperti Tabula Rasa. Ditambah lagi, masyarakat Indonesia belum terbiasa menonton film dokumenter di bioskop secara komersil.

Mulanya, WatchdoC tak berniat membuat "Yang Ketu7uh" masuk bioskop. "Ini modal nekat. Gak ada modal untuk upgrade dari kualitas TV ke bioskop," ujar Dandhy.

Lantas, bagaimana ide pembuatan film dokumenter "Yang Ketu7uh", hingga ia sampai diputar di jaringan bioskop 21 dan BlitzMegaplex, berikut petikan wawancara singkat acehkita.co dengan Dandhy Dwi Laksono:

Dari mana ide awal untuk membuat dokumenter Yang Ketu7uh?

Sebelumnya, WatchdoC sudah membuat dokumenter Alkinemokiye (tentang pemogokan buruh Freeport Papua) dan Kiri Kanan Hijau Merah yang bercerita tentang kehidupan Munir, aktivis yang meninggal diracun dalam perjalanan Jakarta-Amsterdam. Lalu kita berpikir, tahun ini bikin apa lagi, yang bukan kegiatan rutin.

Kita memutuskan buat dokumenter, tapi yang harus ada pemilunya. Apalagi kita perlu stok footage pemilu 2014. Namun, setelah cicil gambar, rencananya mau rilis setahun setelah presiden terpilih.

Kenapa harus menunggu setahun?

Karena kita mau mengikuti perkembangan empat tokoh yang ada dalam film ini. Kita mau melihat, setelah empat tahun ada sedikit perubahan gak. Kalau benar ini pemerintahan yang mau berubah dan berbeda, setidaknya ada perubahan, soal subsidi BBM, jaminan sosial, dan lainnya.

Lalu, kenapa kemudian diputuskan mempercepat rilis?

Situasi politik berubah. Kemarin sempat rame-rame di MK (Mahkamah Konstitusi). Kita khawatir akan menimbulkan konflik sosial, tapi sebenarnya kita sih yakin tidak ada. Itu kisruh elite yang jadi berkembang ke mana-mana. Lalu, kita punya bahan (footage), sekalipun berbeda (pilihan politik) tetapi tidak ribut. Ya udah, kita geber. Pas pertengahan Agustus selesai.
Dandhy D. Laksono | Dok. Pribadi

[Dalam sebuah adegan, "Yang Ketu7uh" memotret dengan apik dialog tentang pemilihan presiden antara Amin Jalalen dengan tiga rekannya di sebuah sawung di tengah sawah. Empat petani yang berbeda pilihan politik itu berbicara mengenai presiden pilihannya. Di sini, mereka berdialog secara elegan dan konstruktif, serta saling menghargai pilihan politik masing-masing.]

Film ini bercerita soal apa?
Kita memilih tema apa yang menjadi kehidupan semua orang, sehingga film ini berisikan empat isu besar. Pertama, isu sembako (kebutuhan pokok). Kedua, pemilikan tanah, itu isu semua orang. Ketiga, tempat tinggal, perumahan. Keempat pekerjaan.

Empat hal itu menjadi isu semua orang. Dari situ kami putuskan. Siapa pun presiden, dia akan berhadapn dengan isu ini. Lalu kita riset, sehingga memilih lokasi syuting di Tanah Tinggi (Jakarta). Di sini ada dua orang yang kita ambil. Mereka berkisah soal isu lapangan kerja dan perumahan. Tokohnya buruh bangunan lepas, sama tukang ojek. Isu mereka bekerja dan perumahan. Bayangkan, rumah berukuran 6 meter persegi dihuni oleh tujuh orang.

Isu petani, kami riset dari sidang MK, ada seorang petani yang bersaksi di MK saat judicial review UU Pertanian. Orang itu yang kita ambil, petanidi Indramayu, yang mengolah lahan pertanian di atas tanah negara.

Terakhir, ibu rumah tangga. Kita ambil di Tangerang, karena mewakili masyarakat sub-urban.

[Yang Ketu7uh memotret kehidupan sehari-hari Nita, 60 tahun, buruh cuci dan asisten rumah tangga di Tangerang Banten; Amin Jalalen, seorang petani penggarap tanah milik negara di Indramayu, Jawa Barat; Suparno dan Sutara yang bekerja sebagai buruh bangunan dan tukang ojek. Suparno dan Sutara harus tinggal di rumah yang jauh dari layak di Tanah Tinggi, Jakarta.]

Kenapa memilih empat orang tersebut sebagai tokoh utama film Yang Ketu7uh?

Mereka mewakili isu dan geografis. Secara geografis, mereka mewakili masyarakat urban (perkotaan), sub-urban (pinggiran), dan plural (pedesaan).

[Dalam sejarah perfilman Indonesia, tercatat setidaknya ada enam dokumenter yang ditayangkan di jaringan bioskop umum secara komersial. Mereka adalah ‘Student Movement in Indonesia’ (2002) karya Tino Saroengallo, disusul sequelnya: ‘Setelah 15 Tahun’ (2013). Lalu ada ‘The Jak’ (2007) dan ‘The Conductors’ (2008) karya Andi Bachtiar Yusuf. Di tahun yang sama, juga ada ‘Pertaruhan’ dari Nia Dinata, sebelum akhirnya ‘Jalanan’ (2014) karya Daniel Ziv. Jaringan bioskop 21 menyebut ‘Student Movement in Indonesia’ yang bercerita tentang Reformasi 1998 sebagai: “film dokumenter pertama yang bisa disaksikan di bioskop”. Bila klaim ini dapat diterima, maka butuh waktu 76 tahun bagi dokumenter Indonesia mendapat tempat di bioskop umum setelah film fiksi pertama yang diproduksi di dalam negeri (Lutung Kasarung, 1926). Atau 69 tahun sejak Indonesia mereka.]

Bagaimana jalan Yang Ketu7uh bisa diputar di bioskop jaringan Blitz Megaplex dan 21?

Setelah naikin trailer di Youtube, itu kan responsnya banyak. Dalam dua hari saja sudah 60 ribu viewers. Akhirnya banyak orang yang bilang, ayo segera bikin, segera jadi. Padahal tadinya bikin trailer saja. Ada yang bilang, ini hanya trailer doang, filmnya gak bakal jadi. (Dandhy tertawa).

Ya udah, karena banyak yang apresiasi, akhirnya kita tanya ke teman-teman yang sudah berkecimpung di film, layak gak ini dibioskopkan, mereka bilang ini layak banget. Ya sudah, kita nekat. Gak ada modal untuk upgrade dari kualitas TV ke bioskop. Lalu kita upgrade dari kualitas full HD menjadi DCP (digital cinema package).

Soal judul Yang Ketu7uh, itu memang dipersiapkan dari awal?

Saat bikin trailer, kita mikir judulnya apa ya. Lalu terpikir, ya sudah "Yang Ketu7uh" saja. Karena ini juga bercerita presiden yang ketujuh. Dan kemudian ini menjadi multimakna, harapan yang ketujuh, dokumenter yang ketujuh yang masuk bioskop. | RADZIE

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.