OPINI | Masyarakat Penentu Kualitas Pendidikan
Oleh Maslina SE*
PENDIDIKAN
adalah permasalah terpenting bagi semua orang. Dengan pendidikan yang
tinggi maka pengetahuan orang juga akan bertambah. Melalui pendidikan,
seseorang bisa memperoleh apa yang menjadi harapan dan cita-cita dalam
hidupnya.
Perilaku dan akhlak seseorang juga dapat diukur dari
tingkat pendidikannya. Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka makin
tinggi pula akhlak kepribadiannya.
Berbicara masalah pendidikan, berarti tidak lepas dari
bicara tentang masyarakat. Karena pendidikan yang berkualitas tidak bisa
terpisahkan dengan kepedulian masyarakat. Yang termasuk masyarakat di sini adalah orang-orang yang berada di sekitar kita. Semua unsur yang ada dalam
masyarakat mempunyai andil yang besar dalam menentukan kualitas pendidikan yang
ada di Aceh.
Selama ini masyarakat punya pandangan yang keliru
terhadap problematika pendidikan.
Di mana pendidikan dianggap
semata-mata tanggungjawab guru atau
bahkan pemerintah. Padahal,
sesungguhnya pendidikan adalah tanggungjawab kita semua.
Makanya, baik
guru, orang tua, lingkungan dan pemerintah mempunyai tanggung jawab yang sama.
Jadi pendidikan bukan tanggung jawab guru semata. Karena itu, butuh kerjasama yang baik
antara guru dan orang tua. Pada sisi
lain, lingkungan juga sangat besar pengaruhnya terhadap kualitas
pendidikan.
Sebab, hanya
lingkungan yang baik akan menghasilkan generasi yang baik pula. Anggapan yang keliru selama inilah
yang membuat mutu pendidikan di Aceh sangat hancur. Karena masalah pendidikan
semata-mata diserahkan sepenuhnya kepada guru di sekolah. Sepulang dari sekolah
orang tua masih banyak yang tidak mengontrol anak-anaknya lagi di rumah terutama dalam hal pelajaran di
sekolah.
Begitu juga masyarakat disekitarnya, kurang peduli jika
mendapati anak sekolah berkeliaran di jalanan. Masyarakat membiarkan saja, karena beranggapan bahwa
anak-anak tersebut bukan anaknya, maka tidak perlu diperhatikan.
Padahal sesungguhnya anak-anak tersebut juga anak-anak
kita, anak-anak bangsa yang harus kita perhatikan perkembangannya. Dengan kita
memperhatikan generasi bangsa berarti
kita telah menyelamatkan negara. Masa depan bangsa terletak di tangan generasi muda. Oleh karena itu kita
wajib menjaga bersama generasi muda kita terutama dalam hal pendidikan mereka.
Dengan pendidikan yang baik akan melahirkan Sumber Daya Manusia yang berkualitas.
Masalah pendidikan tidak bisa dipisahkan dengan masalah
akhlak. Dalam hal ini, orang tua mempunyai peran penting dalam pembentukan
akhlak anaknya. Untuk
membentuk akhlak anak yang baik, dibutuhkan orang tua yang berakhlak baik juga.
Akhlak yang baik sangat ditentukan oleh pendidikan yang
baik pula. Oleh karena itu orang tua wajib mempunyai bekal pendidikan yang baik
dalam mendidik anak-anaknya. Kalau orang tua tidak punya pendidikan yang cukup,
bagaimana mungkin dia dapat mendidik anak-anaknya dengan baik.
Kearifan lokal
(local wisdom) Aceh sudah sejak dari
dulu mengingatkan itu dalam dalam hadih majanya; pakiban u meunan minyeuk, kiban ku meunan aneuk. Pesan endatu atau nenek moyang ini jika
diterjemahkan secara bebas berbunyi; bagaiman kelapa begitu minyaknya,
bagaimana orang tua begitu anaknya.
Akhlak yang baik ditentukan oleh pendidikan agama yang
baik. Dan ini bisa dilihat dari tingkat keimanan seseorang kepada Allah SWT.
Pendidikan dan iman harus sejalan, sehingga terciptanya akhlak yang baik pada diri
seseorang. Jika tingkat keimanan seseorang sudah baik, otomatis akhlak dan
perbuatannya akan baik pula. Begitulah
Allah SWT mengatur kehidupan hambanya.
Karena dalam melakukan kegiatannya sehari-hari orang
tersebut berpedoman pada ketentuan yang sudah di gariskan Allah SWT dan tidak akan
menyimpang karena merasa diawasi oleh Allah SWT.
Kalau tingkat kepedulian masyarakat sudah tinggi terhadap
masa depan bangsa, khususnya dalam masalah pendidikan, berarti kualitas
pendidikan dapat kita tingkatkan. Karena guru tidak lagi bekerja sendiri dalam mendidik generasi bangsa.
Masyarakat dan orang tua juga harus proaktif dalam menciptakan pendidikan
yang berkualitas. Artinya, jika sudah
ada komunikasi yang baik antara guru, orang tua dan masyarakat dalam membina
anak-anak mereka, kita yakin
perubahan itu akan segera terjadi.
Hal ini tentunya tidak terlepas dari pemahaman bahwa
orang tua dan masyarakat juga harus mengambil andil dalam mendidik anak-anak
mereka, tidak semata-mata masalah pendidikan diserahkan kepada guru di sekolah.
Namun orang tua dan masyarakat juga ikut mengontrolnya di rumah.
Semua pihak harus benar-benar memahami akan fungsi dan
tanggung jawabnya masing-masing. Sehingga tidak saling berharap dan tidak
saling menyalahkan jika terjadi sesuatu kepada anak-anak melainkan dipikirkan secara bersama-sama.
Dengan demikian segala persoalan dapat teratasi.
Namun demikian ada sebuah catatan penting, bahwa yang
menjadi ujung tombak dalam menentukan kualitas pendidikan adalah guru, di samping adanya keterlibatan semua pihak.
Karena guru yang berkualitas akan menghasilkan murid yang berkualitas pula.
Akan tetapi, guru selain berkualitas harus juga kreatif dan inovatif dalam mendidik.
Artinya, seorang guru harus bisa memberikan rasa aman,
nyaman sehingga disenangi oleh muridnya. Karena perasaan tersebutlah, maka
murid bisa dengan mudah menerima dan
menyerap semua ilmu yang disampaikan oleh gurunya. Guru juga harus bisa
memberikan motivasi kepada muridnya, sehingga timbul semangat belajarnya.
Namun, yang
kita dengar selama ini, guru tidak mengajar layaknya seorang pendidik. Ini bisa
dilihat dari sikapnya yang kurang menganyomi, menyayangi dan mengasihi anak
didiknya. Dalam kata lain, barangkali kita bisa katakan, kini para guru tidak
lagi “mencintai” pekerjaannya.
Kenapa begitu,
karena kebanyakan para guru yang selama ini mendidik tidak punya latarbelakang
yang memadai sebagai seorang guru. Kenapa ini bisa terjadi, karena tak lain
akibat banyak oknum guru yang merasa terlanjur karena tak punya peluang kerja
yang lain.
Pada sisi
lain, yang perlu kita camkan
bahwa pentingnya menyamakan misi dari level paling atas sampai ketingkat paling
bawah tentang betapa pentingnya pendidikan bagi suatu bangsa. Karena maju
mundurnya suatu Negara atau daerah diukur dari tinggi rendahnya mutu
pendidikan. Melalui pendidikanlah terciptanya SDM yang baik sesuai yang kita
butuhkan.
Untuk itu, perlu kita tingkatkan terus kesamaan persepsi
kita tentang pentingnya pendidikan. Serta pemahaman bahwa pendidikan adalah
tanggung jawab kita bersama tanpa ada pengecualian baik dari aparatur
pemerintahan sampai ke tingkat masyarakat.
Nah, bicara
peran masyarakat, saya pikir pemerintah juga harus mengkampanyekan ini kembali
guna merangsang lagi kepedulian mereka tentang pentingnya pendidikan. Bukan
hanya pendidikan untuk lingkungan keluarga saja, namun pendidikan di level
lingkungan juga harus bagus.
Bila semua ini
sudah berjalan sesuai harapan, tentu pada suatu saat nanti, kita akan menerima
imbas baik dari proses yang terbangun dari kesadaran warga. Sebab kita harus
menyakini, masyarakat (terutama keluarga, lalu lingkungan) itu bisa menjadi
penentu mutu pendidikan yang baik. Apabila semua kita bekerjasama, saya kini
kualitas pendidikan kita bisa diperbaiki.
Makanya amat
penting, lahirnya kesadaran dari keluarga dan masyarakatnya. Semoga
dengan timbulnya kesadaran itu pada diri kita semua, maka kita dapat secara
bersama-sama membawa perubahan pendidikan di Aceh kearah yang lebih baik lagi
dari tahun-tahun sebelumnya. Semoga.
[]
* Penulis adalah aktivis
perempuan dan jurnalis warga
tinggal di Lampaseh, Banda
Aceh

Post a Comment