Header Ads

BERITA FOTO | Sisi Lain Geumpang

GEUMPANG mendadak menjadi buah bibir di media dalam sebulan terakhir. Gara-garanya, instruksi gubernur Aceh yang melarang penambangan ilegal di pegunungan tersebut. Larangan ini menyusul ditemukan kasus kematian ikan di sungai Geumpang dan Teunom, Aceh Jaya, yang diduga akibat zat merkuri --bahan kimia yang lazim digunakan para penambang untuk memisahkan emas dengan campuran bebatuan dan zat mineral lainnya.

Jauh sebelum emas menjadi primadona, Geumpang telah lama menjadi daya tarik. Kecamatan pedalaman Pidie ini dikenal sebagai penghasil padi dan buah-buahan di Pidie. Perkampungan di kecamatan yang berjarak lebih kurang 90 kilometer Selatan Kota Sigli, ibukota Pidie, ini berada di jejeran pegunungan Bukit Barisan.

Geumpang menawarkan eksotisme. Aliran sungai berkelok mengular membelah perkampungan penduduk. Ada tiga daerah aliran sungai besar di Geumpang, yaitu Krueng Meukup, Krueng Lupu, dan Krueng Inong --semua sungai ini bermuara ke Teunom, Aceh Jaya. Bagi masyarakat Geumpang, sungai menjadi sumber kehidupan. Airnya digunakan untuk mencuci, mandi, dan bahkan kadang menjadi air yang dikonsumsi. Sungai juga mengairi persawahan, ladang, dan perkebunan.

Kecamatan berpenduduk 6.231 jiwa ini diselimuti hutan tropis, yang menghasilkan tingginya curah hujan. Musim kemarau di sini ditandai dengan malam yang dingin menusuk tulang dan pagi diselimuti kabut tebal.

Kebanyakan penduduk Geumpang bekerja di lahan pertanian --menanam padi, palawija, hingga berbenun durian. Tak heran, Geumpang memiliki produk unggulan berupa beras kualitas tinggi dan durian. Ada juga di antara mereka yang menjadi pegawai negeri sipil dan pedagang, selain berburu rusa dewasa untuk diambil dagingnya. Makanya, jika sesekali berada di Geumpang, tak salahnya jika ikut mencicipi lezatnya daging rusa.

Dalam tujuh tahun terakhir, masyarakat Geumpang ramai-ramai naik gunung, membuka pertambangan tradisional. Mereka menjadi penambang emas yang terkandung perut bumi Geumpang. Pertambangan mengubah wajah perekonomian masyarakat Geumpang. Roda ekonomi berputar cepat di sana. Namun, roda itu mulai berputar lambat ketika ditemukan ratusan ekor ikan keureuling ditemukan mati di Krueng Meukup --sungai yang dahulu kala pernah tercemar belerang gunung api Peut Sagoe yang terletak di perbatasan Geumpang dan Sungai Mas, Aceh Barat.

Kematian ikan yang diduga sungai tercemar merkuri inilah yang dijadikan alasan keluarnya Instruksi Gubernur Aceh Zaini Abdullah yang melarang penambangan tradisional. "Padahal aliran sungai ini tidak bersumber dari gunung lokasi penambangan," kata seorang penambang kepada acehkita.co.

Di tengah kontroversi penutupan tambang, Geumpang tetap memiliki sisi lain yang lebih eksotis: dengan hamparan sawah hijau, pegunungan berkabut, hingga legitnya buah durain dan daging rusa. | TEKS/FOTO: UCOK PARTA/ACEHKITA.CO









Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.