BKSDA Investigasi Kematian Gajah di Aceh
![]() |
| Gajah mati di Desa Ranto Sabon, Sampoiniet, Aceh Jaya, 13 Juli 2013. | FOTO: Syahrol Rizal untuk ACEHKITA.COM |
Kepala BKSDA Aceh Genman Suhefti Hasibuan menyebutkan, tim yang dikirim ke Aceh Jaya telah mengambil sampel berupa hati dan jantung gajah yang ditemukan mati di pinggiran sungai di kawasan Krueng Sabe, Jumat lalu.
Organ dalam gajah tersebut diotopsi oleh sebuah tim medis di Banda Aceh. Sayangnya, tim medis tak berhasil menyimpulkan penyebab kematian gajah yang memiliki bobot 2,5 ton tersebut.
"Organ dalamnya sudah rusak karena ditemukan seminggu setelah mati, sehingga dokter otopsi tidak bisa memberikan kesimpulan penyebab kematian gajah tersebut," kata Genman Suhefti Hasibuan kepada acehkita.co, Senin (8/9/2014).
Untuk keperluan penyelidikan hukum selanjutnya, BKSDA bekerjasama dengan Kepolisian Resort Aceh Jaya akan membawa sampel gajah tersebut ke Laboratorium Forensik di Medan untuk mengetahui penyebab kematian gajah jantan yang berusia 12 tahun itu.
Selain di Aceh Jaya, BKSDA juga mendapati kematian dua gajah jantan secara mengenaskan di Desa Jamborehat, Kecamatan Banda Alam, Aceh Timur, Ahad kemarin. Kondisi gajah tersebut tak berkepala dan gadingnya hilang.
Genman menyebutkan, BKSDA telah menurunkan sebuah tim ke lokasi matinya gajah. Sayangnya, Genman mengaku belum memperoleh informasi detil mengenai kondisi gajah mati tersebut. "Yang jelas gading kedua gajah tersebut sudah hilang," ujarnya.
BKSDA berharap warga tidak memburu gading dan membunuh gaji. "Satwa ini harus kita lindungi bersama," sebut Genman.
Seperti diketahui, tiga ekor gajah mati di Aceh Jaya dan Aceh Timur dengan kondisi gading hilang. Diduga, gajah tersebut diracun oleh para pemburu gading. | RADZIE

Post a Comment