Menantang Maut di Jembatan Gantung
HARI INI Republik Indonesia memperingati hari kemerdekaannya yang ke-69. Di pelosok Mane, sebuah kecamatan di pedalaman Pidie, warga disibukkan dengan hasil panen durian. Ketika ayam mulai berkokok, petani mulai sibuk mengangkut duriannya. Sebab sebelum jam 8 pagi, durian harus sudah terjual ke agen pengumpul, untuk diangkut ke Sigli, ibukota Pidie yang berjarak tempuh sekitar 110 kilometer, atau ke daerah perkotaan lainnya.
Namun bagi warga Lutueng dan Desa Mane, perjuangan untuk mengangkut hasil panennya butuh perjuangan ekstra. Mereka tak bisa mengangkut hasil panen di pagi buta. Mereka yang rata-rata memiliki kebun di kawasan Lampoh Saban, harus sabar menunggu sang surya benar-benar terang agar durian dari kebunnya bisa diangkut.
Pasalnya, mereka harus melewati jembatan yang hanya terbuat dari dua utas kabel. Jembatan gantung itu menghubungkan dua desa, yaitu Lutueng dan Mane. Jembatan yang dibangun secara arisan oleh warga pada dekade tujuhpuluhan.
"Kami telah berkali-kali mengusulkan, agar dibangun jembatan gantung. Minimal bisa dilewati sepeda motor, namun sampai kini belum ada kejelasan," kata Iswadi, warga Lutueng.
Iswadi yang pada saat perang merupakan pemanggul senjata ini menjelaskan, beberapa kali sudah tokoh dari kedua desa tersebut menjumpai pejabat di Sigli, untuk meminta agar jembatan itu segera dibangun. "Setiap ketemu selalu dibilang sudah diusulkan dan akan segera bisa dibuat."
Namun sampai hari ini sejak puluhan tahun lalu kondisinya masih sama. Bahkan ketika air sungai meluap mereka tak berani membawa hasil kebunnya.
Entah sampai kapan mereka akan mempergunakan jembatan seperti ini? Bagi mereka, merdeka tak hanya sekadar mengibarkan bendera saban peringatan hari kemerdekaan, tapi juga merdeka dari keharusan menantang maut saban melewati jembatan kabel. | FOTO dan TEKS: SUPARTA/ACEHKITA.CO
Namun bagi warga Lutueng dan Desa Mane, perjuangan untuk mengangkut hasil panennya butuh perjuangan ekstra. Mereka tak bisa mengangkut hasil panen di pagi buta. Mereka yang rata-rata memiliki kebun di kawasan Lampoh Saban, harus sabar menunggu sang surya benar-benar terang agar durian dari kebunnya bisa diangkut.
Pasalnya, mereka harus melewati jembatan yang hanya terbuat dari dua utas kabel. Jembatan gantung itu menghubungkan dua desa, yaitu Lutueng dan Mane. Jembatan yang dibangun secara arisan oleh warga pada dekade tujuhpuluhan.
"Kami telah berkali-kali mengusulkan, agar dibangun jembatan gantung. Minimal bisa dilewati sepeda motor, namun sampai kini belum ada kejelasan," kata Iswadi, warga Lutueng.
Iswadi yang pada saat perang merupakan pemanggul senjata ini menjelaskan, beberapa kali sudah tokoh dari kedua desa tersebut menjumpai pejabat di Sigli, untuk meminta agar jembatan itu segera dibangun. "Setiap ketemu selalu dibilang sudah diusulkan dan akan segera bisa dibuat."
Namun sampai hari ini sejak puluhan tahun lalu kondisinya masih sama. Bahkan ketika air sungai meluap mereka tak berani membawa hasil kebunnya.
Entah sampai kapan mereka akan mempergunakan jembatan seperti ini? Bagi mereka, merdeka tak hanya sekadar mengibarkan bendera saban peringatan hari kemerdekaan, tapi juga merdeka dari keharusan menantang maut saban melewati jembatan kabel. | FOTO dan TEKS: SUPARTA/ACEHKITA.CO




Post a Comment