FOTO | Buloh Seuma yang Tertinggal
KEMUKIMAN ini dihuni sekitar 1.000 jiwa. Ia terletak di pedalaman Aceh Selatan. Dari Tapaktuan, kemukiman di Kecamatan Trumon ini bisa ditempuh dalam enam jam perjalanan. Itu pun harus melewati jalan yang penuh azab. Buloh Seuma, nama kemukiman yang kaya hasil alam itu. Di sini, ada lebah madu yang kesohor, hutan yang masih perawan, dan ikan yang berlimpah.
Buloh Seuma terdiri atas tiga desa, yaitu Desa Raket, Kuta Padang, dan Gampong Teungoh. Kawasan yang memiliki luas wilayah 30.600 hektar ini dikepung oleh hutan dan rawa. Sepanjang mata memandang, Anda hanya akan menemukan rerimbunan hutan dan hamparan lahan gambut yang menyimpan debit air tinggi.
Meski berada di kawasan pedalaman, Buloh Seuma sejatinya menyimpan kekayaan alam yang berlimpah. Sayangnya, sumber daya alam itu belum bisa dimaksimalkan untuk menyejahterakan masyarakat yang mendiami kemukiman tersebut.
Hal ini tak terlepas dari kondisi geografis Buloh Seuma yang terisolasi. Akses jalan menuju Buloh Seuma nyaris tak ada. Sejak Indonesia merdeka, warga Buloh Seuma belum pernah menikmati jalan beraspal. Jangankan aspal hotmik, di kawasan itu, aspal goreng pun tak pernah mereka injak.
Antardesa dihubungkan oleh rakit. Jadi, jika warga Desa Raket hendak menuju ke Desa Kuta Padang atau Gampong Teungoh, mereka harus menyeberang rakit. Begitu sebaliknya, termasuk ketika mereka menuju ke Trumon.
Rakit terpaksa kembali digunakan oleh warga Buloh Seuma setelah jembatan yang telah berkali-kali mereka bangun rusak diterjang banjir. Sejak akhir tahun 2012 jembatan penghubung antardesa dibangun. Sayangnya, tak bertahan lama. Jembatan itu hancur dihajar banjir pada April 2014.
Karenanya tak mengherankan jika warga terus terkukung oleh kemiskinan. Hasil alam, tangkapan ikan rawa dan laut, serta madu yang mereka hasilkan tak bisa dijual dengan mudah ke kota.
Warga juga tak leluasa menikmati fasilitas kesehatan. Banyak ibu dan bayi meninggal saat bersalin. Jika saat bersalin terjadi pendarahan atau lainnya, mablien (bidan kampung) tidak sanggup menangani. Maka sangat rentan meninggal karena tidak terjangkau dengan puskesmas
Pendidikan tinggi dan berkualitas hanya cita-cita yang sulit diraih anak-anak Buloh Seuma. Kebanyakan hanya tamatan SMP. Pasalnya, kalau mau melanjutkan SMA mereka harus ke ibukota Kecamatan Trumon -- yang harus ditempuh dalam waktu lima jam.
Buloh Seuma sepenuhnya cerita tentang kemiskinan dan keterbelakangan. Tak ada penerangan listrik dan sinyal telepon seluler di sana. Seliter bensin saja dijual seharga Rp10 ribu.
“Kami tidak tahu apa pun informasi di luar sana, kecuali kalau kami turun ke Trumon," kata Mansurdin, 50 tahun, kepala sekolah SD Buloh Seuma. "Kami berharap pemerintah memasang jaringan telekomunikasi ke daerah kami." | FOTO: GIBRAN/ACEHKITA.CO
Buloh Seuma terdiri atas tiga desa, yaitu Desa Raket, Kuta Padang, dan Gampong Teungoh. Kawasan yang memiliki luas wilayah 30.600 hektar ini dikepung oleh hutan dan rawa. Sepanjang mata memandang, Anda hanya akan menemukan rerimbunan hutan dan hamparan lahan gambut yang menyimpan debit air tinggi.
Meski berada di kawasan pedalaman, Buloh Seuma sejatinya menyimpan kekayaan alam yang berlimpah. Sayangnya, sumber daya alam itu belum bisa dimaksimalkan untuk menyejahterakan masyarakat yang mendiami kemukiman tersebut.
Hal ini tak terlepas dari kondisi geografis Buloh Seuma yang terisolasi. Akses jalan menuju Buloh Seuma nyaris tak ada. Sejak Indonesia merdeka, warga Buloh Seuma belum pernah menikmati jalan beraspal. Jangankan aspal hotmik, di kawasan itu, aspal goreng pun tak pernah mereka injak.
Antardesa dihubungkan oleh rakit. Jadi, jika warga Desa Raket hendak menuju ke Desa Kuta Padang atau Gampong Teungoh, mereka harus menyeberang rakit. Begitu sebaliknya, termasuk ketika mereka menuju ke Trumon.
Rakit terpaksa kembali digunakan oleh warga Buloh Seuma setelah jembatan yang telah berkali-kali mereka bangun rusak diterjang banjir. Sejak akhir tahun 2012 jembatan penghubung antardesa dibangun. Sayangnya, tak bertahan lama. Jembatan itu hancur dihajar banjir pada April 2014.
Karenanya tak mengherankan jika warga terus terkukung oleh kemiskinan. Hasil alam, tangkapan ikan rawa dan laut, serta madu yang mereka hasilkan tak bisa dijual dengan mudah ke kota.
Warga juga tak leluasa menikmati fasilitas kesehatan. Banyak ibu dan bayi meninggal saat bersalin. Jika saat bersalin terjadi pendarahan atau lainnya, mablien (bidan kampung) tidak sanggup menangani. Maka sangat rentan meninggal karena tidak terjangkau dengan puskesmas
Pendidikan tinggi dan berkualitas hanya cita-cita yang sulit diraih anak-anak Buloh Seuma. Kebanyakan hanya tamatan SMP. Pasalnya, kalau mau melanjutkan SMA mereka harus ke ibukota Kecamatan Trumon -- yang harus ditempuh dalam waktu lima jam.
Buloh Seuma sepenuhnya cerita tentang kemiskinan dan keterbelakangan. Tak ada penerangan listrik dan sinyal telepon seluler di sana. Seliter bensin saja dijual seharga Rp10 ribu.
“Kami tidak tahu apa pun informasi di luar sana, kecuali kalau kami turun ke Trumon," kata Mansurdin, 50 tahun, kepala sekolah SD Buloh Seuma. "Kami berharap pemerintah memasang jaringan telekomunikasi ke daerah kami." | FOTO: GIBRAN/ACEHKITA.CO




.gif)
.gif)
.gif)
.gif)

.gif)
.gif)
.gif)
.gif)



Post a Comment