Ini Alasan Tikar Pandan Boyong Penghargaan AFI 2014
| Dok. Tikar Pandan |
Dewan juri yang terdiri atas Totot Indrarto, Nirwan Dewanto, Alex Komang, A.S. Laksana, Hafiz Rancajale, Hilmar Farid, Kemala Atmojo, Lasja F. Susatyo, Sheila Timothy memilih Tikar Pandan sebagai peraih penghargaan Apresiasi Komunitas AFI 2014.
Lembaga yang diinisiasi seniman muda di Banda Aceh ini menyisihkan empat nominator lain, yaitu orum Lenteng (Jakarta), Komunitas Godong Gedang (Banjarnegara), Komunitas Sarueh (Padang Panjang), dan Komunitas Sangkanparan (Cilacap).
Lalu, apa alasan dewan juri memantapkan hatinya memilih Komunitas Tikar Pandan?
Usai perhelatan, sudah menjadi tradisi bagi dewan juri untuk menuangkan catatan mengenai pelaksanaan AFI dan alasan di balik menentukan pemenang penghargaan.
Untuk kemenangan Tikar Pandan, dewan juri memiliki alasan sebagai berikut:
APRESIASI KOMUNITAS
Arti penting Liga Kebudayaan Komunitas Tikar Pandan (Banda Aceh) adalah bahwa ia memperjuangkan kebebasan berkreasi, toleransi, dan perhubungan dengan dunia luas di tengah masyarakat yang semakin dikuasai oleh formalisme keagamaan. Bermula dari kegiatan sastra dan tulis-menulis di tahun 2003, komunitas ini kemudian bergerak ke bidang-bidang kesenian yang lain, termasuk memutar dan membuat film serta menggelar lokakarya bersama para pembuat film. Keaktifan di bidang film tersebut menjadi sangat bermakna manakala di provinsi yang bersangkutan tidak terdapat gedung bioskop dan tempat-tempat pemutaran film, dan menonton film di tempat ramai tak termasuk kegiatan yang “direstui”.
Melalui Tikar Pandan, olah kesenian, termasuk olah perfilman, adalah jawaban terhadap berbagai komplikasi kemasyarakatan yang terjadi sejak masa Daerah Operasi Militer sampai bencana tsunami hingga berlakunya hukum agama pada hari ini.
Direktur Komunitas Tikar Pandan Azhari Aiyub menyebutkan, penghargaan ini didedikasikan kepada mereka yang menjadi penonton setiap film yang diputar di Komunitas Tikar Pandan.
"Ini kebanggaan bagi Aceh," kata Azhari Aiyub kepada acehkita.co, Senin (15/9/2014).
Menurut Azhari, Komunitas Tikar Pandan dianggap berada di garda depan dalam menyebarluaskan film Indonesia, selain medium bioskop, terutama di daerah yang tidak memiliki jaringan bioskop. []
Post a Comment