Header Ads

Terpisah 10 Tahun, Jamaliah dan Wenni Siap Tes DNA

Septi Rangkuti bersama Weniati (Raudhatul Jannah). | Radzie/ACEHKITA.CO
BANDA ACEH | ACEHKITA.CO -- Keluarga Jamaliah dan Septi Rangkuti mengaku siap untuk melakukan tes DNA untuk membuktikan bahwa Weniati alias Raudhatul Jannah, 14 tahun, merupakan anaknya yang hilang dalam bencana tsunami 10 tahun lalu.

"Kalau ada yang komplain, kami siap untuk dibuktikan melalui tes DNA," kata Jamaliah saat ditemui menjelang wawancara di sebuah stasiun televisi swasta di Banda Aceh, Jumat (8/8/2014) pagi.

Jamaliah dan Septi Rangkuti yakin betul Weniati merupakan anaknya yang terpisah dari mereka ketika tsunami menghantam  rumah mereka di Lorong Kangkung, Desa Pangong, Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat.

"Saya yakin dia anak saya," kata Septi Rangkuti. "Saya rasa memang sudah betul. Karena saya merasa, kalau dia anak saya akan ada kontak batin. Dan saya merasakan perasaan itu."

Septi Rangkuti menyebutkan, tsunami 10 tahun lalu menyebabkan dua anaknya hilang: satu perempuan dan satu lelaki. "Saya letakkan mereka di atas sebuah papan. Lalu saat gelombang kedua saya terpisah dengan mereka. Saya kejar-kejar tidak dapat lagi. Saya sendiri selamat setelah tersangkut di atas pohon," sebut Septi Rangkuti.

Septi dan istrinya, Jamaliah, terus berupaya mencari anaknya. Namun, upaya mereka tak membuahkan hasil. Kedua anaknya tak kunjung ditemukan.

Tsunami meninggalkan trauma mendalam di benak Septi Rangkuti. Ia pun akhirnya mengajak keluarganya tinggal di Desa Tarigonan, Padang Sidempuan, Sumatera Utara.

"Sebulan lalu saya ditelepon oleh abang yang tinggal di Blang Pidie, ada anak korban tsunami yang mirip dengan Raudhatul Jannah, anak saya. Lalu kami kemari dan setelah bertemu, saya merasakan bahwa ini anak saya," ujar Septi.

Weniati ditemukan nelayan terdampar di kawasan Pulau Banyak, Aceh Singkil, beberapa waktu setelah tsunami. Saat ditemukan, Weniati bersama seorang anak lelaki yang juga korban tsunami. Setahun kemudian, Weniati diasuh oleh keluarga Sarwani di Pulau Banyak, sebelum akhirnya dibawa ke Blang Pidie, Aceh Barat Daya.

Sarwani, 62 tahun, mengaku mengasuh Wenni layaknya cucu kandungnya. "Setahun setelah tsunami, anak saya yang nelayan melaut di Pulau Banyak. Di sana, dia ketemu dengan dua anak yatim korban tsunami dan saya bilang untuk adopsi saja yang perempuan, karena kita belum ada anak perempuan," kata Sarwani saat ditemui di Banda Aceh.

"Saya sedih berpisah dengan Wenni. Dia sudah seperti cucu saya sendiri. Kalau bisa kami jangan sampai berpisah. Tapi ini Wenni sudah ketemu kedua orangtuanya lagi setelah 10 tahun berpisah," ujar Sarwani. | FG

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.