Header Ads

Dirgahayu RI, Tentara-Warga Lamteuba Bersarung Main Bola

ACEH BESAR | ACEHKITA.CO -- Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-69 dirayakan penuh suka-cita oleh warga dan siswa sekolah di Kemukiman Lamteuba, Kecamatan Seulimuem, Aceh Besar, Ahad (17/8/2014).

Usai upacara bendera di lapangan SMP Negeri 2 Lamteuba, ratusan siswa, warga, dan prajurit TNI dari Kompi Senapan C 113/Jaya Sakti disuguhkan serangkaian perlombaan. Mulai dari makan kerupuk, memasukkan paku dalam botol, balap karung, membawa telur dengan sendok, tarik tambang, hingga goyang jeruk dan sepakbola bersarung.

Goyang jeruk dan sepakbola menggunakan sarung sukses menghibur warga Lamteuba. Saat goyang jeruk, peserta lomba diminta untuk menempel sebuah jeruk di dahi sambil berjoget mengikuti irama musik koplo atau dangdut. Tak jarang, begitu peserta berjoget, jeruk langsung jatuh. Mereka yang jeruknya terus menempel di dahi, itulah yang keluar sebagai pemenang.

Permainan lain yang dinantikan warga adalah sepakbola bersarung. Sepakbola dalam waktu 15 menit ini menampilkan kesebelasan warga melawan prajurit Kompi. Semuanya menggunakan sarung. Uniknya, permainan bola ini diselingi dengan alunan musik. Begitu musik mengalun, pemain bola harus berhenti dan berjoget. Bola baru ditendang lagi setelah musik berhenti.

Kedua kesebelasan bermain sama kuat, sehingga kemenangan harus ditentukan melalui adu penalti. Dan, warga Lamteuba berhasil memenangkan pertandingan setelah mengalahkan prajurit TNI dengan skor 3-0.

Kepala SMA Lamteuba Abdullah menyebutkan, perlombaan ini digelar untuk pertama sekali. "Untuk mengeratkan hubungan antara warga dengan TNI," kata Abdullah.

Abdullah punya alasan menyebut begitu. Pasalnya, saat konflik membara, Lamteuba merupakan daerah hitam dalam catatan aparat keamanan. Lamteuba yang berada di pegunungan ini sering dijadikan gerilyawan Gerakan Aceh Merdeka sebagai tempat bersembunyi. Pada 2006 lalu, TNI membangun Kompi 113/Jaya Sakti di sana. Pembangunan markas tentara itu sempat mengundang protes warga.

Kepala Kompi Senapan A Yonif 113/Jaya Sakti Kapten (Inf) Dindin Rahidin menyebutkan, permainan rakyat usai peringatan 17 Agustus dimaksudkan untuk menghilangkan jarak antara TNI dengan masyarakat.

"Kita ingin menghilangkan image negatif. Kita tahu dulu saat konflik, terjadi perpecahan, tapi kini kami berbaur sebagai wujud manunggal kami bersama masyarakat," kata Dindin.  []

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.