Header Ads

Film Dokumenter Yang Ketu7uh Masuk Bioskop

JAKARTA | ACEHKITA.CO -- Film Dokumenter Yang Ketu7uh besutan WatchdoC diputar di jaringan bioskop 21 dan BlitzMegaplex, mulai Kamis, 25 September 2014.

Dalam sejarah perfilman Indonesia, tercatat setidaknya ada enam dokumenter yang ditayangkan di jaringan bioskop umum secara komersial. Mereka adalah ‘Student Movement in Indonesia’ (2002) karya Tino Saroengallo, disusul sequelnya: ‘Setelah 15 Tahun’ (2013). Lalu ada ‘The Jak’ (2007) dan ‘The Conductors’ (2008) karya Andi Bachtiar Yusuf. Di tahun yang sama, juga ada ‘Pertaruhan’ dari Nia Dinata, sebelum akhirnya ‘Jalanan’ (2014) karya Daniel Ziv.

Jaringan bioskop 21 menyebut ‘Student Movement in Indonesia’ yang bercerita tentang Reformasi 1998 sebagai: “film dokumenter pertama yang bisa disaksikan di bioskop”.

Bila klaim ini dapat diterima, maka butuh waktu 76 tahun bagi dokumenter Indonesia mendapat tempat di bioskop umum setelah film fiksi pertama yang diproduksi di dalam negeri (Lutung Kasarung, 1926). Atau 69 tahun sejak Indonesia mereka.

Sutradara Yang Ketu7uh Dandhy D. Laksono menyebutkan, film ini merupakan proyek tahunan WatchdoC. Sebelumnya, WatchdoC memproduksi Alkinemokiye (tentang pemogokan buruh Freeport Papua) dan Kiri Kanan Hijau Merah yang bercerita tentang kehidupan Munir, aktivis yang meninggal diracun dalam perjalanan Jakarta-Amsterdam.

"Kita berdiskusi, pada 2014 ini bikin apa lagi, proyek gede, yang bukan kegiatan rutin. Ya sudah kita bikin (film dokumenter) dan harus ada pemilunya," kata Dandhy saat dijumpai di kantor WatchdoC di Pondok Gede, Bekasi, Kamis (25/9/2014).

Yang Ketu7uh memotret kehidupan sehari-hari Nita, 60 tahun, buruh cuci dan asisten rumah tangga di Tangerang Banten; Amin Jalalen, seorang petani penggarap tanah milik negara di Indramayu, Jawa Barat; Suparno dan Sutara yang bekerja sebagai buruh bangunan dan tukang ojek. Suparno dan Sutara harus tinggal di rumah yang jauh dari layak di Tanah Tinggi, Jakarta.

"Isu yang kita angkat mengenai kebutuhan dasar, sembako, lalu pemilikan tanah, perumahan, dan ketersediaan lapangan kerja," ujar Dandhy.

Menurut Dandhy, empat isu tersebut akan dihadapi oleh siapa saja yang akan memimpin Indonesia. "Siapa pun presiden, dia akan berhadapn dengan isu ini," sebut pendiri acehkita.com itu. "Yang Ketu7uh memotret kehidupan masyarakat urban, sub-urban, dan plural." | RADZIE

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.