Header Ads

BERITA FOTO | Para Penambang Emas Melawan

GEUMPANG | ACEHKITA.CO -- Gubernur Aceh Zaini Abdullah berkali-kali menyebutkan, pertambangan emas tradisional di Kecamatan Geumpang, Kabupaten Pidie, harus ditutup karena dikerjakan secara ilegal dan merusak lingkungan serta kesehatan warga.

Menanggapi hal tersebut, Sabtu (30/8/2014) ribuan warga Kecamatan Geumpang, Manee, dan Tangse menggelar rapat akbar untuk menolak keputusan yang dikeluarkan oleh Gubernur Aceh itu. Warga yang selama ini menggantungkan hidup dari pertambangan emas tradisional itu mengatakan, mereka menjamin kematian ribuan ikan di dua sungai di Kabupaten Pidie yang bermuara ke Teunom, Kabupaten Aceh Jaya, bukan karena sungai tersebut tercemar limbah pertambangan emas milik warga.

“Kedua sungai yang tercemar itu sangat jauh dengan pertambangan kami, jika ikan mati karena limbah tambang emas tradisional milik masyarakat, kenapa sungai yang letaknya lebih dekat dengan pertambangan tidak ditemukan ikan mati,” sebut M Nasir, koordinator penambang dari tiga kecamatan itu dalam orasinya.

Untuk mempertahankan agar usaha pertambangan emas tradisional yang telah memperbaiki perekomian ribuan masyarakat Geumpang, Manee dan Tangse tetap bisa beroperasi, ribuan penambang yang menghadiri rapat akbar itu, berdiri di panasnya matahari. Mereka juga menandatangani kain putih berstempel darah yang akan dikirimkan kepada Gubernur Aceh sebagai bentuk penolakan terhadap penutupan tambang rakyat.

“Boleh, tambang kami ditutup, tapi sebelumnya, Gubernur Aceh harus menutup semua perusahaan tambang yang ada di Aceh dan semua perusahaan asing di Aceh harus diusir dari Aceh,” teriak M Nasir dalam orasinya yang disambut teriakan setuju masyarakat.

Bagi warga Geumpang, Manee dan Tangse,  tambang emas tradisional telah menjadi primadona untuk bisa memperbaiki perekonomian mereka yang pernah hancur akibat konflik bersenjata di Aceh.

Mereka yang dulunya disebut kampungan dan miskin oleh masyarakat yang tinggal di luar tiga kecamatan itu, setelah tambang emas tradisional beroperasi, kata-kata ejekan tersebut mulai hilang. “Sekitar 12 ribu masyarakat hidup dan mencari nafkah di tambang emas, mulai dari penggali emas, tukang ojek bahkan pengangkut barang keperluan penambang, jika tambang ditutup, maka mereka semua akan menganggur dan kembali hidup miskin,  bahkan mereka bisa menjadi perampok atau pencuri,” sambung M Nasir. | NASKAH/FOTO: GIBRAN/ACEHKITA.CO








Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.